Recent Research

Pandangan Lembaga Management FEB-UI (LM FEB-UI) atas Beberapa Isu Strategis BUMN

LM FEB-UI sebagai lembaga penelitian dan konsultan yang telah berkiprah selama 58 tahun dan membantu hampir semua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui BUMN Research Group (BRG LM-FEBUI) memberikan rekomendasi pengembangan BUMN sebagai berikut:

  • Kerugian BUMN yang disebabkan oleh business judgement rule dalam kerangka Good Corporate Governance tidak dapat dinyatakan sebagai kerugian negara. Namun, performa BUMN yang terbukti dipengaruhi oleh motif persekongkolan perbuatan jahat dapat dinyatakan sebagai kerugian negara.

  • Holding Company (HC) BUMN terdiri atas Induk Perusahaan (IP) BUMN dan Anak Perusahaan (AP) dari BUMN dapat berbentuk Strategic HC atau Financial HC. Supaya fokus dalam mengarahkan AP dari BUMN, HC yang masih berbentuk Operational HC dalam jangka pendek berubah menjadi Strategic HC dengan melepas unit operasional menjadi AP dari BUMN.

  • Pengelompokkan BUMN (clustering) dalam suatu HC dapat mengikuti skema berdasarkan value chain, kesamaan bisnis, atau pertimbangan lain. Penentuan skema merupakan wewenang Kementerian BUMN yang telah melakukan pendalaman. Adanya dinamika industri dan kompetensi manajemen HC menyulitkan dalam melakukan perbandingan skema. Karena itu, urgensi clustering terletak pada keputusan pemilihan skema dan implementasi skema secepatnya.

  • Pengaruh stakeholders terhadap HC terletak pada arah pengusahaan IP BUMN. Selanjutnya IP BUMN memiliki kendali penuh atas AP dari BUMN, termasuk dalam memilih Direksi dan Komisaris AP BUMN dengan mengikuti ketentuan.

  • Penunjukkan Komisaris Independen BUMN mengikuti prosedur fit and proper seperti halnya dalam penunjukan Direksi BUMN sehingga kompetensi menjadi syarat mendasar.

  • Pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) merupakan penugasan yang diberikan stakeholders kepada IP BUMN. IP BUMN selanjutnya menugaskan AP dari BUMN yang memiliki kompetensi dan infrastruktur.

  • Penugasan Public Service Obligation (PSO) kepada BUMN yang bukan HC menjadikan status BUMN tersebut dapat dialihkan menjadi pengelolaan unit layanan pada Kementerian terkait.

  • Untuk memperkuat transparansi dan mengacu pada pengalaman pengelolaan BUMN di Tiongkok, saham Pertamina dan PLN dapat dimiliki publik melalui Initial Public Offering. Untuk menjaga kendali Negara, sangat dibatasi persentase kepemilikan yang dapat dilepas.



  • Catatan Lembaga Management FEB-UI (LM FEB-UI) atas Korporasi Terbuka

    Dari 349 korporasi terbuka yang telah mempublikasi Laporan Tahunan untuk tahun 2020 LM FEB-UI memberikan catatan performa sebagai berikut:

  • Terdapat 249 dari 349 korporasi (71,3%) mencatatkan performa laba bersih. 103 korporasi (29,5%) dari jumlah tersebut menunjukkan laba bersih yang meningkat.

  • Terdapat 100 korporasi (28,7%) mengalami rugi bersih, dengan 42 korporasi di antaranya pada tahun 2019 sudah mengalami rugi bersih. Dapat dikatakan korporasi yang mengalami rugi bersih baru pada tahun pandemi 2020 sejumlah 58 korporasi (16,6%) dari 349 koporasi terbuka.

  • Dari 17 BUMN yang telah publikasi laporan tahun 2020, 12 korporasi (70,6%) mencatatkan performa laba bersih dengan rincian 4 korporasi mengalami kenaikan laba bersih dan 8 mengalami penurunan laba bersih. Lima korporasi mengalami rugi bersih (Jasa Marga, Angkasa Pura I, Waskita Karya, Timah dan PGN).

  • Dari sisi pendapatan 118 korporasi (33,8%) menunjukkan pendapatan yang meningkat. Beberapa korporasi yang meningkat di antaranya Bank Mandiri, BCA, Ciputra Development, XL Axiata, Gudang Garam, Kimia Farma, Indofood CBP Sukses Makmur, dan Telkom Indonesia.

  • Korporasi yang mengalami penurunan pendapatan dengan interval 1 hingga 25 % dibandingkan performa 2019 sebanyak 137 korporasi (39,4%), penurunan pendapatan dengan interval 25%-50% sebanyak 65 korporasi (18,7%). Penurunan pendapatan hingga lebih 50 % dari pencapaian 2019 sebanyak 29 korporasi (8,3%).

  • Dengan estimasi menggunakan sampel menurut industri, terdapat banyak industri memiliki pengaruh elastis dari pertumbuhan ekonomi, seperti sektor properti. Berarti kontraksi PDB menghantar penurunan sektor properti lebih dalam, juga pada sektor perdagangan, dan infrastruktur. Sektor barang konsumsi cenderung inelastis dan sektor pertanian memiliki elastisitas yang berkebalikan.

  • Data basis mikro korporasi menggambarkan detail dari kontraksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 sebesar -2,07 %. Berbeda dengan krisis moneter 1998 yang memukul sisi permintaan dan sisi penawaran sekaligus (terdapat kewajiban yang tidak dilindung nilai), pandemi 2020 mempengaruhi sisi permintaan agregat.

  • Kebijakan pembatasan yang masih memberikan kesempatan korporasi manjalankan usaha dengan protokol kesehatan yang ketat, mendorong korporasi melakukan penyesuaian sejak pandemi terjadi, sehingga memperlihatkan performa bertahan dengan sebagiannya dapat bertumbuh.



  • Rekomendasi dan Catatan Lembaga Management FEB-UI (LM FEB-UI) atas BUMN, Korporasi Tbk, dan Perilaku Konsumen

    Bagian C Catatan atas Perilaku Konsumen

    Pandemi Covid-19 selama tahun 2020 mempengaruhi pergeseran perilaku konsumen secara signifikan. Bagaimana tren perilaku konsumen selama tahun 2021? Melalui survey terbuka kepada sebanyak 301 responden pada periode Februari-Maret 2021, LM FEB-UI memberikan catatan perilaku konsumen sebagai berikut:

    1. Meskipun sosial media mempengaruhi pertimbangan keputusan konsumen, rekomendasi teman/keluarga masih menempati tempat teratas (87%) yang menjadi sumber informasi pengambilan keputusan pembelian kebutuhan pokok
    2. Walaupun konsumen memberi nilai kepuasan di atas 50% kepada tiga moda transportasi utama Jabodetabek (MRT, Trans Jakarta, Commuter Line), konsumen yang memiliki kendaraan pribadi masih menjadikan kendaraan pribadi pilihan utama untuk bepergian di tahun 2021 dibandingkan menggunakna transportasi umum
    3. Kebutuhan akan Internet dan Pulsa HP diprediksi terus meningkat dengan net intent masing-masing sebesar +56 dan +29 akibat diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah (WFH) secara luas. Namun demikian, kebutuhan akan telpon rumah dilaporkan akan berkurang oleh responden dengna net intent -21
    4. Pembelian rumah belum menjadi prioritas di tahun 2021 dimana sebanyak 57% menyatakan tidak berencana membeli rumah dan mengambil KPR.
    5. 55% responden melaporkan akan terus melanjutkan kebiasaan makan di luar, terutama di tempat makan yang memiliki kedisiplinan protokol yang baik dan tidak terlalu dipadati pengunjung.Sementara itu, 91% responden akan terus melanjutkan kebiasaan food ordering, terutama di tempat makan yang memberikan kemudahan dalam pemesanan dan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin dalam proses pengolahan sajiannya.
    6. Meskipun antusiasme untuk melakukan traveling belum kembali normal (di bawah 50%), destinasi domestik seperti Bali, Lombok, dan Labuan Bajo menjadi pilihan responden untuk berlibur di tahun 2021 daripada berlibur ke luar negeri
    7. Perilaku belanja untuk berbagai kategori produk (fashion, elektronik, furniture, peralatan olahraga) dilaporkan akan menurun, hanya pembelian perhiasan yang diprediksi akan meningkat sebesar 6% di 2021.
    8. Konsumsi platform digital responden berbentuk layanan streaming on demand serta pemanfaatan program loyalitas berbasis digital diprediksi masih akan terus meningkat di tahun 2021
    9. Secara umum, responden yang sudah berumah tangga lebih rutin menabung dan berinvestasi dibanding responden pribadi di tahun 2020. Namun, terdapat perbedaan perilaku dalam pengambilan keputusan antara menabung atau berinvestasi di mana responden rumah tangga cenderung memilih untuk meningkatkan investasinya di 2021. Sedangkan responden pribadi cenderung memilih untuk meningkatkan tabungannya.
    10. Hampir seluruh responden sudah menggunakan dan merasa puas dengan layanan digital banking dan digital wallet selama pandemi di tahun 2020. Mereka pun berencana untuk meneruskan dan meningkatkan penggunaannya di tahun 2021 sehingga intensitas transaksi menggunakan digital banking dan digital wallet diprediksi meningkat