Pada awal Februari 2026, stabilitas pasar keuangan Indonesia menghadapi ujian baru. Lembaga pemeringkat internasional, Moody's Ratings, merevisi outlook peringkat utang (sovereign credit rating) Republik Indonesia dari stable menjadi negative. Langkah ini segera diikuti oleh revisi outlook terhadap 19 perusahaan di Indonesia—termasuk sektor perbankan dan pembiayaan—menjadi negatif, sehari setelahnya.
Meskipun peringkat kredit (credit rating) aktual tetap dipertahankan, perubahan outlook ini bukanlah sekadar penyesuaian teknis. Dalam Policy Brief terbaru, BUMN Research Group (BRG) menyoroti bahwa revisi ini mencerminkan kekhawatiran struktural terhadap arah kebijakan ekonomi nasional, khususnya menyangkut prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan publik.
Fokus Analisis: 7 Korporasi Strategis Dari 19 perusahaan yang terdampak, BRG melakukan analisis mendalam terhadap tujuh korporasi sektor riil yang menjadi pilar ekonomi nasional, yaitu: Telkom, Telkomsel, Pertamina, Pertamina Hulu Energi (PHE), MIND ID, Indofood CBP (ICBP), dan United Tractors.
Analisis kami menemukan bahwa fundamental keuangan ketujuh korporasi tersebut sebenarnya tetap solid. Namun, mereka kini terpapar risiko "transmisi negatif" dari ketidakpastian kebijakan pemerintah. Risiko ini sangat krusial, terutama di tengah agenda transformasi besar BUMN melalui pembentukan super-holding Danantara dan implementasi UU BUMN terbaru.
Mengapa Anda Perlu Membaca Policy Brief Ini? Dokumen lengkap Policy Brief BRG mengupas tuntas:
Bagi para pembuat kebijakan, manajemen BUMN, akademisi, dan pelaku pasar, memahami lanskap risiko ini adalah kunci untuk menavigasi volatilitas ekonomi di tahun 2026.
Unduh Analisis Lengkap Untuk mendapatkan wawasan mendalam mengenai dampak revisi Moody's dan rekomendasi strategis bagi ekosistem BUMN, silakan unduh dokumen Policy Brief lengkap melalui tautan di bawah.
Penulis: Tim BUMN Research Group (BRG) Lembaga Management FEB UI